Ekonomi News

Jumat, 14 Juni 2019 - 23:39 WIB

2 bulan yang lalu

logo

Bunuh Diri Infrastruktur

Membangun memang gampang, apalagi tanpa perencanaan yang matang. Hajar dulu, pikir belakangan.

riaulebihbaik.com – Itu yg terjadi pada Bandara Kertajati, bandara terbesar kedua di Indonesia yg berdiri di atas lahan 10.000 hektar lebih. Bandara yang dibangun dengan dasar pertimbangan politik, bukan pertimbangan sosial ekonomi, yang dibangun di tengah areal persawahan yang sangat jauh dari pusat industri dan perdagangan. Dan tentu saja minim fasilitas penunjang seperti hotel, pusat perbelanjaan, sarana transportasi publik dan semacamnya.

Akibatnya sejak diresmikan oleh Jokowi, bandara ini seperti bandara mati suri, tak ada penumpang yang datang karena lokasi bandara yg jauh dari mana-mana.

Dari Bekasi maupun Bandung masih 100 km lebih jaraknya, kalau macet harus ditempuh dalam 3-4 jam perjalanan, berarti calon penumpang harus berangkat 6-7 jam sebelum penerbangan pesawat. Calon penumpang pasti mikir dua kali, ini tidak efisien secara waktu maupun finansial, kelamaan dan kecapekan di jalan sebelum proses check in.

Bandara yg supermegah ini hanya diisi oleh satu rute penerbangan yg masih bertahan, itu pun okupasi penumpang hanya 30% saja, hanya ada 10-20 penumpang setiap penerbangan. Sudah bisa dipastikan maskapai rugi besar.

Miris memang. Biaya operasional bandara per bulan mencapai 6 M, sedangkan pendapatan hanya 500-600 jutaan. Ya, nggak sampai 10%, rugi bandar istilahnya. Sampai kapan bisa bertahan?

Di sisi lain, April lalu Menteri Luhut dengan bersemangat sudah mewakili presiden untuk kontrak 24 bandara baru di Indonesia dengan investor dari Cina, dengan alasan pembangunan infrastruktur masih harus digenjot di Indonesia. Sama dengan Bandara Kertajati, 24 bandara itu investornya juga dari Cina !

Masalahnya apakah nasibnya akan sama atau tidak bandara-bandara baru ini. Jika satu bandara saja biaya operasionalnya minus sampai 5-6 Miliar per bulan, bagaimana jika puluhan bandara baru itu mengalami hal yang sama ? Siapa yang akan menanggung biaya operasioanal dan pengembalian hutangnya ke investor Cina?

Masalah ini mirip dgn proyek LRT di Palembang, yang diresmikan presiden dengan penuh kebanggan. Tapi sekarang? Biaya operasionalnya masih minus hampir 8 milyar per bulan! Karena masyarakat Palembang sejatinya memang belum membutuhkan LRT, tidak terbiasa menggunakan LRT untuk bepergian. Dengan kerugian sebesar itu per bulan sampai kapan akan bertahan?

Saya kira itu akan terjadi pula dengan pembangunan kereta api supercepat Jakarta Bandung via Meikarta. Proyek yg diresmikan dengan melakukan groundbreaking yang mengharu biru penuh janji surga ini bisa jadi akan mengalami nasib yg sama. Tidak nyucuk antara pendapatan dengan biaya operasionalnya. Kalau sudah begitu bukankah akan terjadi semacam bunuh diri infrastruktur secara massal?Itu belum lagi jika bicara nasib jalan tol. Dalam setahun kemarin Jokowi juga ngebut meresmikan beberapa ruas jalan tol untuk meyakinkan kepada masyarakat bahwa pembangunan infrastruktur yang menjadi iconnya tersebut telah sukses dijalankan. Tapi apa yg terjadi setelah peresmian?

Tarif tol yang mahal membuat kendaraan enggan masuk ke tol. Pengendara merasa tidak signifikan antara waktu yg dihemat dengan biaya mahal yg dikeluarkan. Kalau tidak urgen banget mereka akan pilih lewat jalan nasional yang tak berbayar.

Tol dari Solo ke Ngawi ke Jombang hingga Surabaya misalnya. Per jam mungkin tidak ada seratus kendaraan yang lewat, mungkin hanya 50-an mobil saja yang berpacu. Apalagi kalau malam, jalan tol ini seperti kuburan, paling satu dua mobil yang melaju di atasnya, karena orang masih mikir dalam situasi ekonomi yg meroket begini mengeluarkan biaya tol 400 ribu sekali jalan mungkin terasa berat. Padahal ongkos bensinnya paling cuma habis 150 ribuan.

Kalau tidak ada kepentingan bisnis atau acara yg urgen sekali orang akan pilih naik jalan biasa. Bisa hemat 800 ribu PP, kalau sebulan empat kali hampir Rp 5 juta bisa dihemat. Atau orang lebih milih naik bus patas Sumber Kencono saja karena cukup dengan seratus ribu sudah sampai Surabaya.

Padahal argo pembayaran bunga pinjaman dan pokok pinjaman untuk pembangunan insfrastruktur itu jalan terus. Kalau tidak ada pemasukan bagaimana bisa lancar pembayarannya?

Untuk membantu pemerintahan ini ada baiknya kita usahakan kita masuk tol tiap hari, ada atau tidak ada acara penting. Kalau perlu diada-adakanlah bikin acara apa begitu dengan teman-teman. Itu adalah sebagai wujud dari cinta kita pada bangsa dan pada Jokowi sebagai presiden kita. Kalau bukan kita yg menolong jokowi mau siapa lagi? Kodok jelas nggak bisa nyetir mobil, hanya manusialah yang bisa nyetir mobil. Maka tidak ada jalan lain, tunjukkan nasionalismemu, bantu Jokowi. Masuklah ke jalan tol setiap hari sebagai wujud kita bangga juga punya jalan tol.

Agar Bu Sri juga tidak pusing? Right? Sebab, kalau nggak, kita akan seperti Maladewa atau Zimbabwe, negaranya bisa disita karena gagal bayar utangnya. Mau?

Sumber : Among Kurnia Ebo

Republished by riaulebihbaik.com

Artikel ini telah dibaca 272 kali

Baca Lainnya